Cetak ini Laman

KARYA TULIS GURU

Menggenggam Dunia dengan Membaca

Oleh :

Ria Puspitasari

SDN Putat Jaya III/379

Kecamatan Sawahan Kota Surabaya

 

 

Pendahuluan

          Dunia dan manusia merupakan dua buah kata yang saling berkaitan erat dan mempunyai makna yang sangat dalam. Tanpa dunia, manusia tidak bisa berkarya dan tanpa manusia, dunia tidak berarti apa-apa. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan cipta, rasa dan karsa tentunya memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar untuk memastikan keberlangsungan dunia. Salah satu cara yang bisa dilakukan manusia untuk menjaga keberlangsungan dunia adalah dengan membaca. Membaca dalam hal ini tidak hanya berarti melihat kemudian melisankannya saja, tetapi yang dimaksud membaca disini adalah suatu proses dimana kita mampu melihat apa yang ada dan terjadi di sekitar kita kemudian memahami serta menerjemahkan hal tersebut secara objektif. Membaca menjadi suatu keharusan bagi manusia sebagai langkah awal untuk menggenggam dunia.

     Membaca adalah berpikir. Berpikir merupakan suatu proses untuk mengenali. memahami dan kemudian menginterpretasikan lambang-lambang yang bisa mempunyai arti. Dalam membaca, banyak terlibat unsur-unsur psikologis separti kemampuan dan atau kapasitas kecerdasan, minat, bakat, sensasi, persepsi, motivasi, dan ingatan. Selain itu, membaca juga dapat dikatakan sebagai kemampuan mentransfer dan berpikir kognitif yang akan membantu seseorang dalam memahami seberapa banyak pengetahuannya mengenai banyak hal, bagaimana seseorang memandang hidup yang dijalaninya, kemana arah yang sebenarnya ingin dicapai dan pastinya akan membuat seseorang menjadi haus pengetahuan karena dia sadar seberapa kecil pengetahuan yang baru saja diketahuinya.

      Banyak orang terkenal dan sukses dalam kehidupannya karena memiliki hobi membaca. Membaca selain menjadi hobi yang positif dalam mengisi waktu luang juga memiliki banyak sekali manfaat bagi kita, diantaranya : menambah wawasan, menimbulkan banyak ide, memiliki imajinasi tinggi, memudahkan dalam membuat tulisan, mendukung kemampuan berbicara di depan umum dan membuat perubahan positif dalam kehidupan kita. Membaca adalah sebuah keharusan bila kita ingin menguasai dunia. Dengan membaca, pandangan kita menjadi lebih terbuka terhadap hal-hal baru yang kita ketahui sebelumnya. Kita tidak harus pergi ke tempat yang jauh untuk tahu tentang hal-hal menarik dari tempat itu, tetapi kita cukup membaca buku maka kita akan tahu segala hal karena buku adalah salah satu sarana untuk membuka cakrawala dunia.

Upaya Meningkatkan Minat Baca

          Seperti dikutip dari kompas.com tertanggal 26 Maret 2018, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani berdasarkan hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017. Hasil penelitian itu pun menunjukkan bahwa minat baca masyarakat masih rendah dan perlu ditingkatkan. Selain itu, sebuah studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 mengenai “Most Literate Nations in The World” menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari total 61 negara, atau dengan kata lain minat baca masyarakat Indonesia disebut-sebut hanya sebesar 0,01 persen atau dapat dikatakan bahwa dari sepuluh ribu orang, hanya satu orang yang aktif membaca. Ironisnya, angka ini berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet yang mencapai separuh dari total populasi penduduk Indonesia atau sekitar 132,7 juta. Bahkan data yang dihimpun statista.com pada Januari 2018 menyebutkan bahwa 44 persen populasi masyarakat Indonesia lebih memilih untuk mendapatkan informasi dengan mengambil foto dan video menggunakan ponsel mereka, daripada melakukan aktivitas membaca.

        Rendahnya minat baca masyarakat di Indonesia akan menjadi masalah dan kerawanan yang fatal bila tidak segera diatasi. Minat baca masyarakat di daerah terpencil masih kurang lantaran minimnya buku yang dimiliki. Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di perkotaan pun minat bacanya rendah karena lebih tertarik bermain internet. Selain itu, lingkungan hidup di sekitar kita merupakan faktor penting dalam kehidupan, karena secara tidak langsung lingkungan sekitarlah yang membentuk kebiasaan kita, misalnya saja lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga adalah yang paling dekat dengan kita. Jika lingkungan di keluarga saja sudah tidak membudayakan kebiasaan membaca buku, maka dari mana kita bisa menumbuhkan benih-benih minat membaca. Hal ini diperparah dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat dimana generasi saat ini menginginkan segala sesuatunya serba cepat atau instan dan mulai tidak menghargai proses. Padahal membaca sebuah buku baik dari yang tipis sampai yang tebal, semuanya pasti membutuhkan proses membaca. Tiap halaman per halaman dan bab per bab harus kita lalui dan kita nikmati. Sehingga membaca menjadi lebih bermakna.

       Menurut Darmono (2007:217), faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dari dalam diri individu, meliputi faktor jasmani dan psikologi. Faktor jasmani terdiri dari kesehatan individu. Faktor psikologi terdiri dari intelegensi, perhatian, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan. Faktor ekstern meliputi faktor keluarga, sekolah dan masyarakat. Faktor keluarga terdiri dari cara orang tua mendidik, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah terdiri dari relasi guru, karyawan dengan siswa, disiplin sekolah, fasilitas sekolah khususnya perpustakaan dan keadaan gedung. Faktor masyarakat terdiri dari media massa, teman bergaul dan pola kehidupan lingkungan tempat tinggal.

     Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menggiatkan aktivitas membaca adalah dengan optimalisasi gerakan literasi yang sudah dicanangkan oleh pemerintah, melalui gerakan 15 menit membaca sebelum memulai pembelajaran. Kebiasaan membaca buku adalah kunci mujarab bagaimana membentuk sebuah bangsa yang kreatif. Kebiasaan membaca buku harus kita tanamkan sejak kecil karena buku adalah sumber perubahan positif dalam berbagai kehidupan manusia. Buku membawa dampak positif bagi semua orang di dunia ini dari berbagai usia maupun tingkat pendidikan. Buku membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, membuat yang tidak mengerti menjadi mengerti. Oleh karena itulah, mari kita budayakan membaca sejak kecil karena dengan membaca maka dunia berada dalam genggaman kita.

Simpulan 

       Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa membaca adalah sebuah proses berkelanjutan yang terjadi sepanjang hidup kita. Jika kita menelaah berbagai hal yang menjadi penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia pada umumnya dan siswa di berbagai tingkat pendidikan pada khususnya, maka sudah seharusnya sinergi antara pihak pemerintah, pelaksana pendidikan dan masyarakat perlu ditingkatkan lagi. Pemerintah selaku pengatur regulasi seharusnya membuat kebijakan yang lebih proaktif untuk menggiatkan aktivitas membaca dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Seorang guru dan pemangku kepentingan di dunia pendidikan juga tidak kalah pentingnya dalam menggiatkan aktivitas membaca bagi siswa. Guru adalah role model bagi para siswa. Setelah selesai membaca sebuah buku, guru bisa mencoba untuk menceritakan pada siswanya bahwa guru merasakan pengaruh positif setelah membaca buku tersebut, membuat siswa penasaran sehingga muncul keinginan untuk mengetahui buku tersebut lebih lanjut.

     Peran masyarakat dalam hal ini adalah menciptakan lingkungan yang memaksimalkan keinginan dalam membaca dan mampu membawa seseorang untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif dalam menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

 

Kesulitan Belajar Matematika

Oleh:

SITI MOETMA’INAH

SDN Kendangsari IV/279

Kecamatan Tenggilis Mejoyo Surabaya

 

Pendahuluan

            Selama ini siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika atau mengerjakan soal yang diberikan secara berulang-ulang tetap salah. Keadaan tersebut dipicu oleh ketidakmampuan siswa untuk memahami konsep matematika dengan benar.

Bisa dikatakan ketidakmampuan anak dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, namun penjelasan yang diterima tidak ditangkap secara utuh sehingga tugas siswa tidak terselesaikan dengan baik.

            Harusnya setelah melalui penjelasan dan pelatihan-pelatihan siswa dapat mengerjakan dengan benar. Maka perlu ada kedekatan hati antara siswa dan guru, terlebih guru harus mampu memahami karakter dan gaya belajar siswa.

            Anak-anak dengan ketidakmampuan belajar memiliki karakteristik unik mereka sendiri dan gaya belajar yang berbeda. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar matematika anak, yang secara umum berupa faktor dari dalam diri anak sendiri dan faktor dari luar diri anak. Siswa yang menunjukkan kesulitan belajar matematika juga menunjukkan kesulitan dalam berperilaku seperti adanya gangguan emosional, rasa tak tenang, khawatir, mudah tersinggung, sikap agresif, gangguan dalam proses berpikir, semuanya menjadikan kegiatan belajar terganggu. Solusi yang dapat diberikan guru adalah melaksanakan pembelajaran remedial.

 

Pembahasan.

            Matematika adalah pelajaran yang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang dilakukan oleh manusia selalu menghadirkan konsep matematika seperti menghitung, membagi, menjumlahkan, dan mengurangi. Belajar matematika juga mampu melatih seseorang untuk berpikir logis dan teliti. Peran matematika yang besar bagi kehidupan manusia menjadikan matematika sebagai pelajaran yang jadikan syarat bagi kelulusan siswa untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih timggi.

           Matematika sudah diajarkan mulai dari pendidikan dasar atau Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi. Meskipun matermatika sudah diajarkan sejak SD, masih banyak siswa pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi kurang menguasai konsep matematika. Bahkan terkadang pelajaran matematika telah menjadi penyebab kegagalan siswa untuk lulus ujian sekolah sehingga pelajaran matematika dianggap sangat menakutkan bagi siswa. Kondisi ini telah memicu banyaknya bermunculan les privat atau bimbingan belajar matematika.

            Masyarakat biasanya menganggap siswa yang tidak pandai dalam pelajaran matematika adalah siswa yang bodoh. Anggapan tersebut adalah anggapan yang salah karena secara psikologi, kemampuan seseorang bisa dilatih. Siswa yang kurang pandai dalam pelajaran matematika adalah siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.

Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh gangguan system syaraf, namun juga disebabkan oleh kurangnya kualitas materi, metode pembelajaran yang mekanistik, dan model pembelajaran yang monoton atau sulitnya konsep matematika untuk dipahami.

            Mengingat pentingnya pelajaran matematika, kesulitan belajar matematika tersebut harus segera diatasi supaya anak bisa menyerap informasi matematika dengan mudah. Sayangnya, banyak guru dan orang tua yang belum mengetahui informasi tentang kesulitan belajar siswa sehingga cap “anak bodoh” masih sering terdengar. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian tentang kesulitan belajar matematika siswa SD.

Kajian ini bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat khususnya guru dan orang tua tentang kesulitan belajar matematika dan cara menanganinya.

            Biasanya siswa yang kesulitan belajar karena kurangnya berlatih atau gangguan dalam proses berpikir.

Siswa yang kesulitan belajar karena kurangnya berlatih dirumah atau munculnya kelainan perilaku siswa.

           Peran orang tua dan guru agar memberikan perhatian yang cukup kepada anak, sehingga kekurangan atau kelemahan-kelemahan mereka dapat diketahui dan diatasi.

Diharapkan kesulitan belajar dapat diatasi dengan cara yang benar.

 

Simpulan.

  1. Kesulitan belajar matematika adalah disebabkan factor dari dalam diri anak dan dari luar diri anak.
  2. Kesulitan belajar matematika dapat dilihat dari perilaku siswa.
  3. Siswa yang kesulitan belajar matematika karena kurangnya berlatih dirumah.

Faktor-faktor tertentu yang menjadi penyebabnya, baik dari dalam diri anak maupun dari luar diri anak.

Upaya untuk mengatasi kesulitan belajar dari orang tua dan guru diharapan dapat mengatasi kesulitan belajar siswa.

 

Kredit Komik Siap USBN

 

Oleh :

Titik Supriati

SDN Kendangsari IV/279

Kecamatan Rungkut – Surabaya

 

Pendahuluan

     Proses pembelajaran merupakan bagian terpenting dari sebuah kegiatan pendidikan. Proses pembelajaran adalah suatu upaya untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan tidak akan dapat terlaksana tanpa adanya suatu proses pembelajaran yang ada di suatu lembaga pendidikan. Guru dan siswa (peserta didik) merupakan 2 unsur penting dari sebuah kegiatan pembelajaran. Seorang guru haruslah memiliki kompetensi-kompetensi yang berkualitas guna untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki olehseorang guru adalah pedagogik artinya guru harus menguasai semua pelajaran yang diajarkan ditingkat MI/SD. Ada beberapa faktor yang penghambat guru untuk mencapai kompetensi tersebut yaitu kurangnya minat guru untuk mengkombinasikan dengan berbagai metode yang ada, kurangnya penguasaan materi pelajaran sehingga guru menjadi kurang siap, dan kurang kreatifnya guru dalam mendesain proses pembelajaran yang ada di dalam kelas. Dampak dari faktor tersebut sangat banyak dirasakan oleh peserta didik yaitu dampak psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, kepercayaan, intelegensi, pengetahuan. Dari permasalahan tersebut dikhawatirkan pesan (materi) yang disampaikan tidak dapat tersalurkan dengan maksimal kepada siswa. (Arief S. Sadiman,2009: 28).

        Hal ini merupakan tanggung jawab dari seorang guru. Seorang guru yang baik harus bisa menjadi mediator dan fasilitator. Maksudnya, seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifitaskan proses belajar mengajar, dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah (Akhyak, 2005: 13).

       Agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan mudah untuk dipahami oleh siswa, maka guru dapat menggunakan media pembelajaran. Tujuan dari penggunaan media pembelajaran adalah untuk memperjelas penyajian guru dalam menyampaikan materi pelajaran, mengatasi sikap aktif siswa dan mengatasi keterbatasan ruang sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Jika penggunaan media pembelajaran mampu mengatasi permasalahan dalam proses pembelajaran khususnya dalam hal penyampaian pesan (materi), maka siswa yang akan merasakan dampak positifnya dan akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPA. Media pembelajaran sangat dibutuhkan oleh guru agar siswa bisa menerima informasi atau pesan dengan baik, karena media mempunyai arti penting dalam dunia pendidikan, terutama dalam pendidikan formal di sekolah, guru sebagai pengajar dan pendidik yang terjun langsung dalam dunia pendidikan formal sekolah, tidak meragukan lagi tentang keampuhan suatu media pembelajaran utamanya dalam menanamkan sikap dan mengharapkan perubahan tingkah laku seperti yang diharapkan, yaitu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Media pembelajaran terdiri dari media visual, media audio visual, media grafis dll. Media komik merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan untuk membantu guru dalam memberikan penjelasan materi kepada siswa.

      Dalam berbagai hal komik dapat diterapkan untuk menyampaikan pesan di berbagai ilmu pengetahuan, dan karena penampilannya yang menarik, fomat dalam komik seringkali diberikan pada penjelasan yang sungguh-sungguh dari pada sifat hiburan semata. Komik merupakan suatu bentuk bacaan dimana peserta didik membaca tanpa harus dibujuk, melalui bimbingan dari guru, komik dapat berfungsi sebagai “jembatan untuk menumbuhkan minat membaca” (Ahmad Rohani, 1997: 79).

         Alasan lain dipilihnya media komik, karena media ini sangat menarik dalam kehidupan siswa dan siswa sangat antusias untuk membuat sendiri cerita komik tersebut serta merupakan suatu realita bahwa seluruh siswa dapat mengenal dan mengingat karakter tokoh dan komik yang mereka lihat karena mereka menggunakan tokoh dari foto atau gambar teman satu kelasnya.

PEMBAHASAN

        Kata Media Komik Pendidikan berasal dari tiga suku kata yaitu Media, Komik, dan Pendidikan. Yang pertama yaitu media, kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar (Arief S. Sadiman, 1989:6). Media merupakan sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi yang berupa materi pembelajaran dari guru ke peserta didik . menurut Ahmad Rohani ( 1997: 3) media adalah segala sesuatu yang dapat di Indra yang berfungsi sebagai perantara / sarana / alat untuk proses komunikasi (proses belajar mengajar). Arti dari perantara disini adalah proses transfer knowledge yang berlangsung antara guru dan peserta didik yang membutuhkan sebuah alat yang mampu menjembatani peserta didik agar apa yang disampaikan guru dapat diterima baik oleh pesertadidik. Macam dari media itu sendiri sangat banyak sekali, Wina Sanjaya ( 2009: 211) mengelompokan media pembelajaran Di lihat dari sifatnya, media dapat dibagi kedalam tiga yaitu media auditif , media visual, dan media audio visual. Media auditif  adalah yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara. Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Media audio visual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat. Dari berbagai macam jenis media di atas seorang guru harus dapat memilih media yang sesuai dengan materi. Maka hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mempertimbangkan media dari segi ketepatan dan keefektivitasan. Apakah media yang kita gunakan sudah tepat atau belum, jadi dasar pertimbangan untuk memilih media sangatlah sederhana, yaitu dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang di inginkan atau tidak . MC, Connel mengatakan dalam buku media pendidikan karya Arief S Sadiman (1989: 84), bila media itu sesuai pakailah,“ If the medium fits,use it !”.

     Manfaat dari pemilihan media yang tepat, secara umum. Manfaatnya dalam prosespembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa (peserta didik) sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Menurut Kemp dan Dayton yang di kutip oleh Etin Solihatin dan Raharjo (2007: 23-25) mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam proses pembelajaran sebagai berikut :

(1) menyampaikan materi pelajaran dapat diseragamkan,

(2) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik,

(3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif,

(4) Efisiensi dalam waktu dan tenaga,

(5) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa,

(6) Mediamemungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja,

(7) Media dapatmenumbuhkan sikap positif peserta didik,

(8) Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.

  Yang kedua yaitu komik, komik merupakan bagian dari macam media pembelajaran. Media komik tergolong kedalam media grafis, seperti yang dijelaskan oleh Suwarno (2006:134) bahwa media grafis adalah jenis media yang menuangkan pesan dalam bentuk simbol –  symbol komunikasi verbal. Bentuk  – bentuk media grafis antara lain adalah gambar foto, sketsa, komik, dll. Komik merupakan jenis bacaan yang paling digemari dan diminati, tidak hanya oleh anak-anak, tetapi para remaja dan orang dewasapun sangat menyukai jenis bacaan ini, karena dari segi tampilan, cerita, maupun karakter dari tokoh yang ditampilkan di komik sangat menarik. Ada beberapa jenis komik yang beredar di pasaran, dalam dunia pendidikan juga terdapat komik yang biasa disebut sebagai komik pendidikan, komik ini berisi tentang penjelasan materi yang dituangkan dalam bentuk cerita bergambar (komik). Menurut Daryanto ( 2010: 27) komik dapat didefinisikan sebagai bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan menerapkan suatu cerita dalam urutan memberikan hiburan kepada para pembaca. Secara garis besar menurut Trimo(1997:37) media komik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu komik strip (comic strip) dan buku komik (comic book ).

 Komik strip adalah suatu bentuk komik yang terdiri dari beberapa lembar bingkai kolom yang dimuat dalam suatu harian atau majalah, biasanya disambung ceritanya, sedangkan yang dimaksud buku komik adalah komik yang berbentuk buku. Penelitian ini menggunakan bentuk komik strip karena lebih simpel, waktu yang digunakan lebih efektif dan akan lebih cepat dipahami siswa.

Simpulan

       Proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan yang di inginkan  jika guru berhasil membuat peserta didik faham terhadap materi tersebut. Salah satu cara yang dapat digunakan agar tujuan yang diinginkan tercapai yaitu menggunakan alat bantu pembelajaran dalam hal ini adlah media komik, komik yang digunakan disini adalah jenis komik pendidikan, dimana subtansi dari komik diganti dengan materi-materi yang terdapat dalam mata pelajaran. Media komik pendidikan memberikan banyak sekali manfaat terutama bagi anak yang malas membaca dan anak yang sulit memahami materi pelajaran terutama mata pelajaran yang dianggap sulit. Ada sebuah ungkapan mengatakan One picture is worth a thousand word ( satu gambar sama nilainya dengan seribu kata). Dengan adanya media komik pendidikan ini dapat menjadi inovasi dalam dunia pendidikan khususnya bagi siswa yang berada di tingkat MI/SD terutama pada jenjang kelas VI sebagai pemantapan materi untuk siap menghadapi UASBN

 

PEMBIASAAN DAN KETELADANAN PONDASI      MEMBANGUN KARAKTER

Oleh:

Moch. Gusnul Arifin

SDN Ploso V/176

Kecamatan Tambaksari, Surabaya

 

 

 

Pendahuluan

           Pendidikan merupakan hal yang penting dalam segi kehidupan. Dengan Pendidikan seseorang dapat bersaing di era yang serba modern seperti saat ini. Pendidikan dapat meningatkan taraf  hidup seseorang, dan pendidikan juga dapat membuat seseorang menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.

          Memiliki pendidikan yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan sikap yang diperlihatkan atau ditunjukkan di dalam masyarakat. Artinya seseorang yang berpendidikan tinggi  belum  tentu mempunyai karakter. Sudah banyak contoh di berita televisi, koran, internet dsb orang-orang yang tersandung korupsi,  suap, dan sebagainya  adalah orang-orang yang mempunyai pendidikan tinggi.

        Masyarakat kita masih banyak yang beranggapan bahwa pendidikan hanya mengembangkan dari segi pengetahuan. Meskipun saat ini istilah Pendidikan Karakter  sudah tidak asing untuk kita, namun hasilnya masih belum bisa kita rasakan secara maksimal. Apalagi sekarang ini nilai USBN masih  menjadi acuan dalam menentukan pilihan sekolah selanjutnya maka tidak sedikit para guru kelas VI harus berjibaku mempersiapkan siswa untuk sering latihan-latihhan soal dan Tryout untuk memperoleh nilai tinggi sehingga dapat masuk di SMP-SMP terbaik,  satu sisi kita harus menanamkan karakter tetapi disisi lain kita juga harus mengejar kemampuan kognitif  siswa.

            Karakter siswa ketika di sekolah maupun masyarakat masih belum seperti yang kita harapkan. Sopan santun dan tata  krama lambat laun mulai tidak tampak pada siswa di era seperti saat ini. Dahulu jika ada anak lewat depan orang tua paling tidak mengucapkan permisi tetapi sekarang jarang ssekali. Maka sebagai pendidik kita berkewajiban mengarahkan mereka supaya  menjadi manusia yang beretika dan berkarakter.

             Keadaan ideal jika antara pengetahuan, ketrampilan dan sikap atau karakter berjalan seimbang. Artinya siswa mampu menempatkan diri ketika bicara dengan orang yang lebih tua, tahu bagaimana dia harus berbicara, jika lewat di depan orang tahu bagaimana dia harus bersikap, dan jika ada temannya kesulitan atau terkena musibah tahu bagaimana dia harus bersikap, jika diberi amanah tahu bagimana harus menggunakannya, dan lain sebagainya.

            Salah satu persoalan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hingga hari ini adalah lemahnya karakter bangsa. Bangsa Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sulit maju menjadi bangsa yang kaya, disebabkan oleh masalah karakter bangsa.

          Korupsi yang merajalela, perilaku suap yang terus terjadi di  tengah masyarakat, kemiskinan mewabah, pengangguran yang merajalela, ketidakdisiplinan dalam menjalankan kehidupan, kurang bertanggungjawabnya dalam menyelesaikan segala tugas kantor atau sejenis, dan berbagai macam kebobrokan dalam hidup berbangsa, itu semua disebabkan oleh lemahnya karakter bangsa.

         Lemahnya karakter bangsa tercermin pula dari perilaku para elite negara ini. DPR yang bekerja tanpa memedulikan nasib rakyat yang diwakilinya, dan menghabiskan waktu untuk memikirkan pembangunan gedung DPR baru,dan hanya senang dengan penampilan lahiriah, dan lain-lain adalah cermin dari lemahnya mental, yang merupakan wujud lain dari lemahnya karakter bangsa.

 

Pembahasan

            Thomas Lickona dalam bukunya ”Educational for Charater” mengemukakan bahwa Pendidikan karakter adalah Pendidikan budi pekerti plus yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tanpa ketiga  aspek tersebut maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Ini berarti selain pengetahuan maka dibutuhkan tindakan nyata yang bisa diwujudkan dengan pembiasaan-pembiasaan kepada peserta didik agar budi pekerti luhur tertanam sebagai akibat dari proses pembiasaan yang terus menerus.

            Dalam Pendidikan nilai, permodelan atau memberikan teladan merupakan strategi yang banyak digunakan karena dianggap efektif dalam membentuk karakter peserta didik. Bahkan menurut Suwandi, pendekatan modeling atau keteladanan yang dilakukan pendidik lebih tepat digunakan dalam pendekatan karakter di sekolah. Hal ini karakter merupakan perilaku dan bukan pengetahuan sehingga untuk dapat di internalisasi oleh peserta didik maka harus diberikan keteladanan disamping diajarkan dengan cara yang sesuai dengan kondisi siswa. Jadi siswa membtuhkan contoh nyata, bukan hanya contoh-contoh dalam buku pelajaran.

       Dari pemaparan diatas sudah jelas bahwa pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus sebagai perwujudan sikap sehari-hari dan keteladan yang ditunjukkan guru mendorong siswa untuk melakukannya sehingga tidak sadar kebiasaan yang dilakukan akan menjadi sebuah watak atau karakter siswa.

             Waktu dulu sekolah dan kuliah, saya mengidolakan sekali michael jordan, banyak sekali rekor dan prestasi yang telah dicetaknya. Suatu ketika saya melihat videonya berlatih dalam menembakkan bola ke ring basket. Dan ternyata dia melakukannya dalam repetisi ratusan kali dalam setiap kali latihannya. Woow… yang menajdi pelajaran adalah, dahulu ketika saya melihat prestasinya saya sangat terpukau, bagaimana dia memiliki akurasi tembakan yang bagus sekali, ternyata setelahnya saya baru sadar bahwa selain memiliki bakat yang lebih dibandingkan pemain yang lain, dia mengimbanginya dengan latihan yang keras pula. Michael Jordan Membiasakan diri dalam menembakkan bola ke dalam keranjang, Jika kita melakukan latihan menambakkan bola ke dalam keranjang dari berbagai sudut lapangan dalam repetisi sampai ratusan kali, maka kita juga sama dengan menciptakan sebuah kebiasaan. Dalam pertandingan resmi, kebiasaan ini akan menjadi faktor penentu.

         Nah, selain Michael Jordan, kita saat ini bisa melihat bagaimana kerasnya Lionel Messi dan Christiano Ronaldo berlatih, lebih dibandingkan dengan rekan rekan se teamnya yang lain.

            Jika kita melakukan sebuah tindakan, maka kita akan menciptakan sebuah kebiasaan. Jika kita menciptakan sebuah kebiasaan, maka kita akan membangun karakter diri. Jika kita membangun karakter diri , maka kita akan menciptakan nasib atau merubah jalannya kehidupan kita sendiri. HATI membentuk pikiran, PIKIRAN membentuk pemahaman atau ‘apa yang dipercayai”, PEMAHAMAN membentuk kebiasaan, KEBIASAAN membentuk karakter, dan akhirnya KARAKTER secara permanen nampak dalam SIKAP (tingkah laku) kita.

            Teori pembiasaan adalah proses pendidikan yang berlangsung dengan jalan membiasakan anak didik untuk bertingkah laku, berbicara, berpikir dan melakukan aktivitas tertentu menurut kebiasaan yang baik. Dasarnya adalah al-Qur’an dan Hadits serta pendapat para pakar pendidikan. Di antara firman Allah yang berkaitan dengan teori keteladanan adalah QS. al-Maidah (5): 30-31, QS, al-Ahzab (3): 21, dan QS. al-Mumtahanah (60): 4, sedangkan yang berkaitan dengan teori pembiasaan adalah QS. al-Nūr (4): 58. Demikian pula hadits yang dijadikan di antaranya adalas Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Sedangkan dari kalangan para pakar, di antaranya adalah Edward Lee Thoorndike dan Ivan Pavlov.

            Keteladanan dan pembiasaan dalam pendidikan amat dibutuhkan karena secara psikologis, anak didik lebih banyak mencontoh prilaku atau sosok figur yang diidolakannya termasuk gurunya. Pembiasaan juga tak kalah pentingnya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena setiap pengetahuan atau tingkah laku yang diperoleh dengan pembiasaan akan sangat sulit mengubah atau menghilangkannya sehingga cara ini amat berguna dalam mendidik .

Tindakan yang  berupa kebiasaan dan keteladanan mendorong siswa untuk menumbuhkan karakter mereka secara perlahan.

 

Langkah strategis yang harus dilakukan

Supaya antara pendidikan yang menekankan pengetahuan seimbang dengan pencapaian karakter yang diinginkan maka dapat dilakukan pembiasaan-pembiasaan dilingkungan sekolah. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menanamkan karakter pada siswa adalah:

  1. Menyusun program pembiasaan-pembiasaan sekolah
  2. Sosialisasi kepada semua warga sekolah, siswa, walimurid, dan komite
  3. Melaksanakan program pembiasaan

Didalam pelaksanaan program tidak hanya siswa yang melakukan tetapi semua warga sekolah baik kepala sekolah, TU, kebersihan, keamanan, dan terutama guru yang menjadi contoh atau teladan bukan sekedar menyuruh siswa.

  1. Melakukan evaluasi secara periodic
  2. Merencanakan tindak lanjut

 

Simpulan

Pembiasaan dan keteladanan menjadikan anak bertindak lebih baik karena mereka dilatih melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan melakukan tindakan nyata dilinkungan mereka belajar sehingga yang mereka lakukan akan selalu teringat dipikiran dan dilaksanakan melalui tindakan dari pada sekedar nasihat dan tulisan-tulisan saja.

Dengan pembiasaan dan keteladanan membuat siswa untuk senantiasa meningkatkan  karakter mereka karena pembiasaan akan selalu terjadi secara berulang-ulang dalam sikap mereka

 

Tak Sempat Menghela Napas Menyambut USBN SD

Oleh:

Nur Aini Widawati

SDN Pakis V

Kecamatan Sawahan, Surabaya

 

 

Pendahuluan

            Butuh waktu lama untuk mempersiapkan siswa kelas VI dalam menghadapi USBN SD 2019. Tahun ini, USBN SD akan dilaksanakan pada bulan April dengan tiga mata pelajaran yang diujikan, yaitu : Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Meskipun dilaksanakan bulan April 2019, namun persiapan menghadapi USBN SD butuh rangkaian yang lengkap dan panjang. Persiapan tersebut telah dilaksanakan sejak semester ganjil. Sejak bulan September, siswa kelas VI harus melewatkan waktu tidur siang untuk mengikuti tambahan jam belajar di sekolah. Sore hari, mereka harus kehilangan waktu bermainnya untuk les di lembaga bimbingan belajar pilihan orang tua atau mereka sendiri.

            Di sekolah mereka tidak leluasa belajar dan bermain karena harus menghabiskan materi semester ganjil dan genap pada akhir semester ganjil (bulan Desember). Memasuki bulan November, siswa kelas VI dihadapkan pada program Try Out USBN SD 2019 yang telah dijadwalkan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Program try out dilaksanakan mulai November hingga Maret. Selain try out bulan November, siswa kelas VI juga harus mengikuti Penilaian Tengah Semester Ganjil (PTS Ganjil). Pada bulan Desember, mereka mengikuti Penilaian Akhir Semester Ganjil (PAS Ganjil). Saat libur semester ganjil pun, mereka harus masuk sekolah untuk mengikuti try out USBN SD 2019.

Cara Menghadapi Test

        Memasuki tahun baru 2019, siswa kelas VI disambut dengan try out. Pada akhir Januari telah terjadwal kegiatan Penilaian Tengah Semester Genap (PTS Genap). Pada pertengahan bulan Februari siswa kelas VI akan mengikuti Penilaian Akhir Semester Genap (PAS Genap). Kemudian disusul dengan kegiatan Ujian Praktik dan Ujian Sekolah tulis non USBN. Bagi mereka, waktu terasa sangat singkat dan berlalu cepat.

            Usia anak SD adalah masa akhir kanak-kanak. Karakteristik utama anak SD adalah menampilkan perbedaan intelegensi, kepribadian, dan kemampuan kognitif maupun bahasa. Pendidikan bagi mereka adalah jembatan untuk mencapai intelegensi, kepribadian, dan kemampuan kognitif maupun bahasa yang mengarah lebih baik. Untuk itu, mereka berhak memiliki waktu untuk belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Jangan biarkan mereka kehilangan dunia mereka sendiri.

        Jean Piaget mengatakan bahwa usia anak sekolah dasar (7-12 tahun) berada pada stadium operasional konkrit. Dengan latar belakang tersebut, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang membangkitkan semangat siswa. Misalnya membuat media pembelajaran yang menarik dan bervariasi. Hal ini dilakukan karena anak pada usia tersebut mudah beralih, artinya dalam jangka waktu tertentu anak dapat tertarik pada hal lain (susah fokus) atau mudah bosan.

            Menurut Erikson, anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil. Anak mulai memahami makna persaingan, prestasi, dan kegagalan. Hal tersebut dapat menjadi positif dalam memacu semangat belajar anak. Sehingga anak juga perlu dihadapkan pada keadaan yang menuntut mereka berpikir praktis untuk bersaing dan berhasil atau bersaing kemudian gagal. Tentunya hal tersebut dapat dilakukan dengan tidak mengurangi kodrat mereka sebagai anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan.

            Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB), Profesor Iwan Pranoto mengatakan, Ujian Sekolah sudah mempersempit proses belajar karena siswa hanya belajar untuk ujian, bukan berdasarkan minat, gairah, dan keingintahuan. Dalam hal ini, sebagai seorang pendidik hendaknya guru mampu menjadi fasilitator bagi anak didiknya dalam proses belajar mengajar agar mereka dapat belajar berdasarkan minat, gairah, dan keingintahuan masing-masing. Sehingga ujian sekolah bukanlah satu-satunya tolak ukur keberhasilan, namun merupakan instrumen penilaian akhir. Dengan demikian, anak-anak tidak merasa terbebani karena mampu menikmati segala proses yang harus mereka lewati.

          Seperti yang dikatakan Darmodjo (1992) bahwa anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah di mana kecepatan pertumbuhan pada masing-masing anak tidak sama. Untuk itu, setiap anak bebas berproses sesuai tingkat kecepatan pertumbuhan mereka. Tugas kita hanya mendampingi dan mengarahkan mereka melewati setiap fase pertumbuhan mereka dengan hal-hal positif yang mengarah lebih baik.

         Seorang pendidik dituntut untuk mampu berinovasi dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran harus semakin baik dan bermanfaat bagi siswa. Siswa membutuhkan semangat dari guru agar mereka tidak merasa bosan dalam pembelajaran. Guru harus memastikan bahwa setiap siswa memperoleh pengalaman belajar pada setiap kegiatan pembelajaran. Selain itu, guru harus memberikan arahan bahwa belajar adalah proses memahami, di mana pada proses tersebut selalu ada evaluasi. Guru harus meyakinkan siswa bahwa ujian sekolah bukanlah hal yang perlu ditakuti, melainkan hanya sebuah instrument penilaian akhir. Meyakinkan siswa bahwa rangkaian persiapan ujian sekolah adalah hal yang memang harus dilalui tanpa merasa kehilangan waktu. Apabila hal tersebut dapat dilakukan secara seimbang dan terarah, maka tidak akan ada kendala dalam proses pembelajaran maupun kegiatan persiapan ujian sekolah.

Simpulan

             Siswa kelas VI merasa tak sempat menghela napas menyambut USBN SD merupakan hal yang wajar terjadi pada anak yang akan menghadapi ujian. Apalagi bagi siswa kelas VI SD hal tersebut merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti ujian dengan berbagai rangkaiannya. Siswa kelas VI sedang berada pada fase operasional konkrit yang dapat menyebabkan siswa mudah bosan apabila proses pembelajaran tidak menarik bagi mereka. Anak kelas VI SD sudah tertarik terhadap pencapaian hasil, di mana hal ini mampu menjadi motivasi belajar mereka untuk mencapai keberhasilan. Seorang pendidik harus mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif agar siswa mendapatkan hak mereka untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai kebutuhan mereka masing-masing. Selain itu, guru harus mampu membuka pikiran siswa agar tidak berpikir bahwa ujian sekolah adalah pengadilan bagi mereka, namun berpikir positif bahwa ujian sekolah adalah jenjang akhir masa kanak-kanak untuk memasuki masa remaja yang lebih luas. Dengan demikian, guru sebagai pilar pendidikan mampu mensinergikan aspek-aspek pendidikan demi terwujudnya sebuah bangsa yang bermartabat.

 

Tautan permanen menuju artikel ini: http://pgrikotasurabaya.com/karya-tulis-guru/